30 Jun 2014

Cetivasi : “Goresan Mobil” by Ifan

 
 
Tersebutlah seorang Eksekutif Muda, dia merupakan pengusaha muda nan kaya yang baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap.
Kini, si Eksmud sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar perumahannya dengan penuh rasa bangga dan prestise.

Dipinggir jalan, tampak beberapa anak-anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang diparkir dijalan. Dia hanya berdiri di dekat mobil itu. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

”Bhuk … !” Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu.

Sisi pintu mobil itu pun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

“Cekiiiiiiittt . . .” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dia mundurkannya mobil itu menuju tempat arah atu itu dilemparkan.

“Jaguar yang tergores, bukanlah perkara yang sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain.” Begitu dalam benak eksmud itu.

1248713_20130408074956

Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Suara bantingan pintu mobil terdengar cukup kerasnya saat ditutup.

Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan dengan sedikit mendorong dipojokannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku !”

“Lihat goresan itu !!” teriaknya sambil menunjuk goresan pada sisi pintu.

“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.”

Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul bocah laki-laki berusia sekitar 8 tahunan itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dia berusaha meminta maaf.

“Maaf Pak, Maaf. Dafa benar-benar minta maaf. Sebab, Dafa tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Suara lugunya melirih, air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.

“Maaf Pak, Aku melempar batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti . . .” Bocah itu bersuara lagi.

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk suatu arah, di dekat mobil-mobil terparkir tadi.

“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Dafa gak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia kesakitan.” Kini, ia mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai mengiba itu.

“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi aku gak sanggup mengangkatnya.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergelatak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah.

Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.
Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap darah pada luka di lutut yang nampak memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua Anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

“Terima Kasih, dan semoga Tuhan  akan membalas perbuatan Bapak.” Keduanya berjalan beriring, Si Adik dengan gigih mendorong kursi roda kakaknya, meninggalkan pengusaha yang masih membisu menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, menyusuri sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dialaminya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepela, tapi pengalaman tadi menghentakan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia Memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkan pada hikmah ini.

Ia menginginkanagar pesan itu tetap nyata terlihat : “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar ?

Allah SWT, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap Firman-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Teman, kadang memang, ada yang akan “Melempar Batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Batu itu adalah Cobaan untuk kita, Ujian agar Allah meminta kita tak lupa pada-Nya.

Life is Let it Flow, Lebih baik perlahan tapi pasti, dari pada terburu-buru malah terlewati dan menyesali. “

Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melempar batu-batu itu buat kita. Astagfirlohaladzim . . .

Terima Kasih buat Teman-teman ku yang sudah menguatkan saya dan menginspirasi saya saat berada di titik Galau, semoga lewat cerita ini kalian mengerti maksud dan hikmah dibaliknya.

1 komentar:

"aku sangat senang bila anda dapat meninggalkan komentar disini"