10 Des 2014

[CERPEN] - " Hadiah Terbaik “


“ Hadiah Terbaik “

Kategori               : CERPEN
Judul                     : Hadiah Terbaik
Karya                    : Irfan Mustofa

“Akhirnya selesai, huh...” gak heran setiap ngerjain tugas pasti berpeluh. Aku tengok jam dinding, pukul 8 malam. Aku lirik kalender kecil di meja belajarku, ada sebuah tanggal yang aku lingkari sendiri dengan spidol merah.

“29 Januari?” aku mencoba mengingat sesuatu, karena ada sesuatu kalau tidak salah dengan tanggal itu “Oh, Iya ! itu kan ulang tahunku, besok lagi !” angan-anganku melayang akan semua hadiah yang aku inginkan selama ini.
“Ky... Makan dulu ! sejak pulang sekolah tadi sore, kamu belum makan.” Ibu, teriak dari balik pintu kamarku, membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya, mah !” aku tinggalkan setumpukan buku itu, lalu keluar dari kamar.
Di ruang tengah yang tak banyak perabotan, seperti biasa beralaskan tikar aku melihat beberapa lauk pauk alakadarnya, Ayah duduk bersila menyantap lauk dan nasi dengan lahap. Sepertinya beliau baru saja pulang kerja, karena masih memakai seragam PNSnya. Aku pun duduk bersila disamping ayah lalu mencoba menyantap makanan yang sudah Ibu siapkan di piring. Melihat makanan yang akan aku santap, membuatku sadar akan keadaan keluarga kami yang memang pas-pasan, lamunan akan hadiah-hadiah yang aku inginkan tadi sepertinya terbang menjauh. Aku ingin mengatakan pada Ayah jika besok aku ulang tahun dan ingin ini, ingin itu. Tapi, aku tahu diri dengan keadaan keluargaku, melihat ayah hanya PNS di kelurahan, yang gajinya cukup untuk biaya hidup dan sekolah saja. Kayaknya, enggak usah deh.
Aku anak laki-laki Ayah satu-satunya, malu kalau banyak meminta, harus merasa cukup dengan apa yang aku punya, walaupun begitu layaknya anak laki-laki sesusiaku, yang masih suka main, aku juga ingin sekali beli Play Station, supaya setiap pulang sekolah gak harus ke rental terus buat main Game Favoritku, dan bisa ngajak teman-temanku buat main di rumah.
“Ky ? Hei, Rizky !!” tegur ayah, memecah lamunanku. “Mikirin apa ? dari tadi nasinya dipandangin terus.”
“Eh, Yah ! Hem, engga. Gak ada kok.” Ucapku singkat.
“Sudahlah, Kangkungnya enak kok, apalagi itu asin Cumi buatan Ibumu,, enak banget jika dicampur sama sambal dan kangkung.” Dari perkataan Ayah, seakan dia kira jika aku melamun karena mengeluhkan makanan yang ada didepanku.

“Oh, masa Yah ? heem, cobain ahh ..” aku ambil asin cumi dengan mimik wajah semangat, dan langsung menyantapnya dengan lahap “Heemm, bener lah, Ibu emang koki yang handal, makyus banget, iya kan, Yah?” Pujiku pada Ibu. Mencoba menampik pemikiran Ayah, jika aku mengeluh soal makanan. Ibu pun hanya tersenyum melihat ekspresi ku saat makan.
Selesai makan, aku ingin bicara sesuatu soal ulang tahunku itu, aku lihat Ayah sudah cukup nyantai.
“Yah, besok kan tanggal 29, Ayah gak lupa sesuatu kan ?” tanya ku sedikit malu.
“Emang, ada apa tanggal 29 ?” Ayah bertanya balik.
“Eeuu...” dalam hati aku ingin bilang, “besok ulang tahunku, aku pengen banget dibeliin PS” tapi kayaknya Ayah lupa deh, sama ulang tahunku, aku agak sungkan kalau minta dibeliin PS, kalo di ingat-ingat lagi, meskipun gajian Ayah udah dekat, tapi kan gak seberapa, kayaknya gak mungkin di beliin.
“Hemp, bentar lagi kan Ayah gajian...” menelan ludah “Jangan lupa yah, nanti bayar SPP buat bulan depan” Tiba-tiba aku malah ngingetin Ayah soal iuran bulanan sekolah, habis aku gak tega kalau mau minta beli PS yang harganya ratusan-ribu itu.
“Owalaah haha, iya nak. Masa Ayah lupa bayar SPP, Kirain ada apa, ampe gugup begitu.” Balas Ayah dengan santai.
“Iya, heheh” aku nyengir malu.

“Rizky, rizky, kalau ada sesuatu yang ingin kamu mau, ya katakan saja.” Ibu mencoba memancing-mancing.
“Emm, engga bu, Cuma mau bilang besok Rizky ulang tahun hehe “
“Oh, iya ya! hampir aja Ayah lupa, makasih sudah ngingetin, Selamat Ulang Tahun, Ayah doain aja yaa semoga ...” Seperti biasa Doa orang tua pada anaknya, jadi anak berbakti, sholeh, pinter, sukses dll.

“Amiinn... makasih Yah.”
“Gimana, tadi sekolah mu nak?” Obrolan pun berlangsung hangat, khas keluarga kecil yang sederhana.
Esok pagi datang, seperti biasa aku bergegas sekolah  dan Ayah sudah siap berangkat ke Kantor Lurah dengan sepedanya. Ayah lupa mengucapkan Ulang Tahun padaku, mungkin karena semalam sudah.
“Selamat Ulang Tahun, Anaku.” Ucap Ibu, sambil membawakan bekal nasi buat aku. Saat aku buka wah, makanan favorit aku. Sarapanpun agak spesial hari itu, dengan Sayur Lodeh dan Ayam goreng, aku sudah menduga pasti Ibu memotong Ayam, yang kami pelihara. Tapi ya sudahlah, aku sangat berterima kasih.

“Terima Kasih, Bu, Aku berangkat, Assalamualaikum...” Aku mencium tangan, lalu pergi sekolah.
Teman-teman disekolah pun, yang memang mengetahui hari ini aku berulang tahun, mereka mengucapkan ulang tahun padaku. Seharian berlalu, aku pulang kerumah. Hingga malam tiba, saat aku di kamar. Ayah masuk ke kamar, dengan sebuah kantong keresek besar. Aku pikir pasti Ayah membawakan aku kado.
“Selamat Ulang Tahun, Nak.” Ayah memberikan kantong keresek yang berat itu. tapi saat aku buka. Bentuknya seperti boneka tanah liat berbentuk Ayam.

“Ini, apaan yah ? Patung?” tanyaku agak heran.
“Bukan, nak, itu adalah ladang kekayaan kamu.” Ucap Ayah.
“Hah? Maksud Ayah, Boneka Ayam itu bertelurkan Emas?” jawabku menghayal.
“Itu Celengan Ayam, Nak.”
“Oh, celengan...” aku lesu, sedikit kecewa karena bukan hadiah yang aku inginkan.

“Eh, nak, jangan sangka celengan Ayam itu bisa memberikan apa yang kamu mau, jika kamu tekun.” Kata Ayah, dalam benakku aku kan sudah SMP mana bisa dibodohi, itu kan cuma celengan berbentuk Ayam.
“Misalnya yah?”
“Ayah tahu, kamu ingin punya Play Station kan?” tebak ayah.
“Hah ! dari mana Ayah tahu aku ingin punya PS ?” mataku melotot karena kaget.
“Gak penting Ayah tahu darimana, yang jelas Ayah tahu dari Ibu, heheh”
“Euuh, Ayah bisa aja, hampir aku kira Ayah bisa baca pikiranku.”
“Hahah, bukan, jadi gini nak, Ayah mungkin bisa belikan kamu PS, tapi ayah tidak mendidik kamu jika Ayah begitu saja memberikan apa yang kamu mau.”
“Loh, kenapa yah ?”
“Kamu anak laki-laki ayah dan sudah cukup besar, sudah saatnya kamu belajar berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kamu mau.”
“Aku kan masih SMP, apa aku harus kerja yah?”
“Tidak begitu. Ayah cuma mau, kamu tekun dan bersabar dengan cara Menabung.”
“Menabung, Yah? Oleh karena itu Ayah ngasih Celengan Ayam ini?”
“Iya, nak. Kamu bisa menyisihkan uang Jajan yang Ayah kasih buat kamu Tabung disitu. Uang jajan kamu pasti ada sisanyakan? Daripada kamu pakai buat main PS mulu, tiap pulang sekolah, kenapa gak kamu tabung aja buat beli PS, toh, nanti kamu bisa main PS sepuasnya jika sudah punya PS sendiri. “ Ucap Ayah, lagi-lagi membuatku heran mengapa ayah tahu kalau setiap pulang sekolah sisa uang jajanku suka dipakai buat ke Rental PS.

“Ayah, tahu juga soal itu? heemm... nabung kan lama yah... ”
“Iya gak akan kerasa lama jika kamu Sabar, kamu harus belajar Nabung, gini Ayah jelaskan jika kamu ingin beli PS yang seharga 500.000 aja, jika kamu sisihkan 2000 sehari dari uang jajanmu, seminggu sudah 14.000, sebulan 56.000, 10 bulan udah 560.000, 2 tahun sudah lebih dari 1 juta. Tuh, kan banyak nak.” Ayah jelaskan dengan detail.
“Heemm... iya juga sih yah.” aku manggut-manggut sendiri.

“Ayah yakin deh, kamu bisa belajar Nabung dari sekarang, jangankan buat beli PS? kamu bisa beli apa aja jika menabung dengan tekun, sperti apa kata Ayah tadi :  Ayam itu bisa ngasih kamu apa aja. Itu artinya dengan menabung kamu pasti untung.”
“Oh, begitu yah. Ok, akan aku coba yah.”
“iyah, menabung itu bisa jadi ladang kekayaanmu nak, ingat waktu kecil pepatah “menabung pangkal kaya” kalau kamu gak percaya dengan pepatah itu, coba kamu buktikan sendiri bener atau engga, tapi ingat kamu gak harus menghitung berapa uang yang kamu tabung, cukup sisihkan dengan rutin, tiba-tiba sudah banyak aja.” Ucapan ayah, membuat aku tergiur untuk menanbung.
“Nah, inilah hadiah dari Ayah, si Ayam ini penghantar kekayaanmu.”
“Baiklah, Ayah. Aku akan menabung dari sekarang.”
Setelah, Ayah menjelaskan semua keuntungan menabung, aku jadi tergugah untuk menabung. Aku sangat bangga punya ayah sepertinya, Dia selalu mengajarkanku banyak hal, meskipun sIbuk bekerja dia selalu menyempatkan untuk ngobrol dan meluangkan waktu untukku, setiap hari lIburpun aku selalu bersama ayah hanya untuk sekedar memancing, berkebun, atau lari pagi bersama.

Saat Ayah mengajarkanku betapa untungnya menabung, dia selalu mengingatkanku untuk nabung setiap dia memberikan Uang jajan. Aku mulai selalu menyisihkan uang jajanku, yang biasanya aku pakai buat main PS, aku masukan uang 2000 sampai 3000 rupiah ke Celengan Ayam yang besar itu. karena sudah terbiasa, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Celengan Ayam ku itu semakin-lama-semakin berat, tandanya semakin banyak isinya.
Karena saking seringnya aku melihat dan menimang celengan Ayam itu, aku sampai menamai Celengan itu dengan nama Si Juki. Udah hampir setahun aku menabung, ini adalah waktunya aku melihat dan menghitung isi perut si Juki, yups, tabunganku. Karena si Juki terbuat dari tanah liat aku harus memecahkannya terlebih dahulu. Awalnya mau aku lempar ke lantai, tapi mending aku pukul pakai palu kecil saja supaya tidak berantakan.
“Aduh, gak tega mecahinnya.” Sambil memegang palu, saat mau aku pukul si Juki, rasanya aku ingat semua usahaku saat menyisihkankan uang saku. Karena aku sangat menikmati usaha saat menyimpan uang jajanku itu, Sehingga membuatku ragu untuk memecahkan Celengan Ayam ini, agak berlebihan sih, tapi aku juga sangat ingin membeli PS.
“Ya udah deh, nanti aja aku pecahin si Jukinya.” Aku mengurungkan niat untuk memecahkan celenganku, aku pikir nanti saja aku pecahkannya ketika aku siap. Lebih cepat dari yang aku kira, ternyata esok harinya aku sudah mulai siap melepas kepergian Si Juki, celenganku, tapi aku tidak akan menghancurkannya, karena aku lihat dengan seksama, bagian bawah celenganku bentuknya datar dan bulat, aku pikir kenapa tidak aku lubangi saja untuk mengambil Uang didalamya. Akhirnya aku lubangi bagian bawah celenganku, sehingga si Juki tidak perlu aku lempar ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

“Waaww, banyak banget !! ini sih melebihi targetku untuk membeli PS, masih banyak Sisanya. Wah wah ...” Sambil menghitung uangku sendiri di kamar, lembar-demi-lembar, koin-demi-koin. Aku melihat kalender kecilku, 26 Desember.

“Ada lingkaran merah di tanggal tersebut, hem, itu kan Ulang Tahun Ayah, Ahh, aku mau belikan Ayah sesuatu ah, buat Kado Ulang Tahunnya.” Aku senyam-senyum sendiri sambil memegang uang di tangan, baru kali ini aku memegang uang banyak sekali.

“Tapi, aku beli apa yaa? buat Kado Ayah.” Aku masih memikirkan, hadiah apa yang nanti akan disukai Ayah. Aku simpan dulu uangnya, nanti jika sudah ketemu jawabannya aku nanti belanjain PS, dan Hadiah buat Ayah.
Beberapa hari kemudian, saat aku pulang sekolah, entah kenapa rumah begitu sepi. Ayah kerja, tapi Ibu tidak ada di rumah, dan tidak ada makanan di lemari. Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk-ngetuk pintu. “Tok! ... Tok! ... Tok! ...”
 
“Assalamualaikum, Ky, !! Rizky !! Kamu udah pulang ?” Teriak Pak Slamet tetangga aku. Di depan pintu rumahku. Lalu aku pun keluar, karena Pak Slamet nampak gelisah.
“Walaikum salam, iya, ada apa pak?” Sahut ku sambil membukakan pintu.
“Itu, euu ... Bapakmu ky..” kata Pak Slamet agak panik.

“Eum, Ayah belum pulang pak.”

“Iya, saya tahu, maksud bapak, Ayahmu, Darah tingginya kumat, dia jatuh dari tangga di Kantornya. Sekarang dibawa ke Rumah Sakit. Ibumu menyuruh bapak memberi tahu kamu, jika sudah pulang sekolah.”
“Hah ! Bapak jatuh dari tangga ?” aku sontak kaget “Kalau begitu antar saya ke Rumah Sakit pak !” pintaku pada Pak Slamet, karena panik aku belum sempat ganti seragam dan langsung ikut bonceng sama Pak Slamet ke Rumah Sakit. Setelah aku sampai ke Rumah Sakit, aku di antar pak Slamet ke Ruang Rawat Inap Ayah. Aku melihat Ibu, sedang duduk tertunduk memegang semacam berkas administrasi Rumah Sakit.

“Ibu !” aku teriak dan berlari menghampiri Ibu, aku memeluk Ibu.
“Bu, bagaimana keadaan Ayah didalam?” tanyaku begitu sedih, begitu juga Ibu, matanya begitu sembab sepertinya beliau juga habis menangis.

“Ayahmu, terserang Stroke, nak. Sekarang Ayahmu Koma, Dokter melarang kita untuk masuk, jadi Ibu menunggu disini.”
“Astagfirloh, Stroke, Bu? Koma?” badanku langsung lemas mendengarnya, aku benar-benar Shock, padahal Ayah itu selalu nampak sehat. “Ya, sudah bu, kita tabah saja, kita berdoa demi kesembuhan Ayah.” Aku sebenarnya begitu sedih melihat keadaan Ayah, tapi sebagai anak laki-laki aku tidak boleh menunjukan kesedihan dihadapan Ibu.
“Yang membuat Ibu sangat sedih, kata Dokter kemungkinan Ayahmu akan Lumpuh, tidak bisa berjalan lagi.” Ibu langsung menangis dan memeluku lagi dengan erat. Aku juga, menitikan Air mata dipelukan Ibu.
 """

Satu minggu berlalu, Ayah terbangun dari Koma. Aku bersyukur Ayah masih bisa berbicara dengan jelas, kedua tangannya bergerak, namun tak mampu berjalan. Tapi Ayah tetap tersenyum pada kami. Kemudian Ayah diizinkan untuk pulang. Saat Para Suster, melepas semua peralatan yang terpasang pada Ayah. Aku mengantar Ibu kebagian Administrasi, aku bingung bagaimana dengan Biaya Rumah Sakit nya, meskipun bukan Aku yang menanggungnya, tapi aku ingin sekali bertanya. Ketika, Ibu di bagian Administrasi, ternyata semuanya sudah terbayar Lunas.

“Ibu ? Bagaimana bisa biaya rumah sakitnya sudah lunas semua? Kita kan tidak punya...” tanyaku heran sekali.

“Nak, sebenarnya Ayah dan Ibu punya simpanan Uang di Bank, jadi semua biayanya sudah ditangani.” Ucap ibu dengan senyum lega.

“Oh, jadi Ayah juga menabung?”
“Iya, nak, Ayahmu menabung, sebenarnya ...” perkataan Ibu terhenti.

“Sebenarnya kenapa Bu? ” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya itu semua Tabungan untuk Pendidikan kamu nak, jadi Ayahmu menabung agar kamu bisa melanjut sekolah ke SMA bahkan Kuliah, Ayahmu ingin kamu Kuliah. Ibu tidak mau menutupi ini lagi.”
“Subhanallah, Ayah sudah merencanakan sampai sejauh itu, Bu?” aku terharu mendengarnya.

“Iya, Nak. Kamu jangan Ibu mengatakan ini ya, pada Ayahmu. Jangan sekarang ... ” Pinta Ibu.

“Iya, Bu” jawabku sambil menganggukan kepala.

“Maaf ya, Rizky, karena Ayahmu sakit, uang tabungannya Ibu pakai dahulu, nanti kita akan menabung lagi kok...” kata Ibu, sambil mengusap kepalaku.

“Tidak Apa-apa bu, ini juga demi kesehatan Ayah. Untung Kita Nabung ya, Bu !”
“Iya betul, nah, inilah salah satu manfaat menabung, jika ada kejadian tak terduga seperti ini, kita tidak akan kelabakan, karena sudah siap sebelumnya. Makanya menabung sejak dini ya.” Kata Ibu.

“Iya, Bu, Rizky juga menabung kok !” Mendengar kata-kata Ibu, membuatku semakin senang telah menabung, ternyata banyak sekali manfaatnya.

Setelah suster melepaskan peralatan kesehatan pada Ayah, kami pun segera pulang, aku membantu Ayah, mendorongnya dengan Kursi Roda yang di pinjamkan dari Rumah Sakit, tapi setelah sampai Rumah, Kursi Roda itu dibawa kembali, karena itu merupakan Fasilitas Rumah Sakit. Sehingga Ayah, hanya bisa terbaring di Kamar. Mau, apa-apa harus Aku dan Ibu yang mapah.

Karena sekarang Ayah lumpuh, dan sudah tidak bisa bekerja di kantor Lurah lagi. Ayah mengambil keputusan untuk Pensiun dari tempat kerjanya. Tapi Ayah, tidak khawatir soal Uang. Karena Ayah bilang, tetap akan mendapat pesangon atau Gaji setiap bulannya. Karena Baktinya selama 25 Tahun ini. Aku sendiri bingung, kenapa bisa begitu ?

Ayah berkata “Itu karena, setiap bulan Gaji Ayah, disisihkan untuk di simpan sebagai tunjangan hari tua, ketika telah Pensiun uang itu bisa di ambil, itu artinya sama dengan Menabung, karena sebagai PNS bisa melakukan itu, nak.”

“Oohh, begitu, Untung banget ya, Yah ! “ Senyum ku mengembang mendengarnya, Tuh kan lagi-lagi aku menemukan manfaat dan keuntungan dari menabung. Aku begitu senang telah belajar menabung selama ini. Karena dulu sejak kecil aku begitu boros, dan malas menabung, tapi setelah mengalami semua kejadian ini, aku merasa beruntung telah menabung.

"""

Besok adalah hari Ulang Tahun Ayah, aku sudah menemukan Jawaban hadiah apa yang akan disukai dan dibutuhkan oleh Ayah. Esok paginya Aku berencana untuk minta diantar Pak Slamet untuk membelanjakan Uang tabunganku.

Keesokan pagi, di sebuah Toko, setelah dibantu menawar oleh Pak Slamet, akhirnnya aku bisa mendapatkan barang yang aku mau untuk Ayah.

“Waah, Ky, kamu dapat dari mana Uang sebanyak itu?” tanya Pak Slamet begitu penasaran.

“Nabung, donk Pak !” jawabku.

“Weiiss, Hebat kamu Ky, kecil-kecil udah ulet menabung.” Ucap Pak Slamet begitu terkesan padaku.

“Ulet Menabung ? Ulet mah, makan daun pak. hehe” Celetuk canda ku renyah.

“Eh, bukan ulet yang itu, aduuuhh maksudnya Bapak, rajin begitu, hahaha kamu ini ada-ada aja.” Pak Slamet tertawa.

“Hahahaha ... iya lah Pak Menabung itu Hebat ternyata.” aku ikut tertawa.

Ternyata uangku, Ludes semua untuk membelikan Hadiah untuk Ayah, tapi tidak apa-apa lah, nantikan Aku bisa menabung lagi. Ketika Sampai dirumah, Aku melihat Ibu sedang memberikan Teh Hangat pada Ayah dan Ia sendiri sedang duduk diruang tengah Sambil menonton TV. Lalu, melihatku masuk kerumah.

“Dari mana saja kamu Ky, dari pagi gak keliatan. Gak sekolah ?” Tanya Ayah.

“Hehe, Ayah ini kan tanggal merah, liat aja dikalender ini hari Cuti Natal.”

“Oh, iya yah, aduh aduh.. haha Ayah lupa.” Sambil tepuk jidat.

“Ayah juga lupa sesuatu, yaa...??”

“Lupa apa? Ayah udah mandi kok !” jawab ayah malah bercanda.

“Hahaha, bukan itu yah, sekarangkan tanggal 26 Desember, hari ini Ulang Tahun Ayah, bukan?”

“Oh, iya ! haha Ayah kok lupa, ya, tanggal lahir sendiri.”

“Selamat Ulang Tahun Yah,” aku mencium tangan Ayah. Ibu hanya tersenyum. “Ibu, kok, gak ngucapin Ulang Tahun ?”

“Udah dong, dari tadi pagi. Ekhh keceplosan”

“Loh, berarti Ayah udah tau dong, kalo Ayah Ulang Tahun? Huh, Pake pura-pura lupa segala.”

“Ah, Ibu mu ini, mulutnya bocor mulu, iya nak, hahaha Tapi Ayah bangga, rupanya Anak Ayah ingat hari ulang tahun Ayahnya..”

“Ya, Iya lah... Eh, Rizky, punya hadiah special buat Ayah. Pak Slamet Ayoo bawa Masuukk !!!” aku teriak memanggil Pak Slamet yang dari tadi menunggu diluar, Ayah dan Ibu malah saling pandangan, karena bingun kenapa Pak Slamet tetangganya yang di panggil.

Pak Slamet pun masuk dengan hadiah yang dibawanya, yaitu sebuah Kursi Roda baru. Ayah dan Ibu begitu Kaget. Ekspresi Ibu sambil menutup mulut dengan tangannya lalu menitikan air mata. Pak Slamet membatu Ayah, agar bisa duduk di Kursi Roda barunya.

“Ini hadiah, untuk Ayah !” aku mempersebahkan dengan gaya seperti seorang presenter.

“Kemari nak ...” Ayah memintaku untuk membungkuk, kemudian dia memelukku sambil berkata “Terima Kasih, Anakku” tangisnya pecah saat itu, suasana saat itu menjadi mengharukan karena bahagia. Untung, aku menabung karena dengan itu hari ulang tahun Ayah menjadi hari yang begitu berkesan untuknya.


Tamat.

0 komentar:

Posting Komentar

"aku sangat senang bila anda dapat meninggalkan komentar disini"