10 Des 2014

[ Cerpen ] “ Ngeteng Traveller ”




Sudah enam tahun sudah aku berteman dengan mereka yang mengaku 7ranger, teman-teman dari berbagai kota yang aku kenal lewat     sosial media, rencananya kami akan bertemu dan berlibur bersama. Hingga Bali menjadi spot pilihan kami untuk bertatap langsung.
Hari yang dinanti tiba, Goo dari Banjarmasin dan Irwan dari Lombok memutuskan untuk menunggu kami berlima di Bali. Sedangkan Arief dari Aceh, Syam dari Batam, dan Leo dari Palembang memutuskan untuk Transit dahulu ke Jakarta bertemu Pian yang dari Bogor dan Aku sendiri dari Bandung. Perkenalkan aku Irfan, dan inilah petualanganku ke Pulau Dewata.
Dengan memakai baju ungu, ransel dan tas selendang kecil berisi uang cash, dan tiket pesawat aku layaknya seorang backpacker. Dari jam 5.12 pagi aku di Stasiun Bandung, berdiri diantara antrian loket untuk membeli tiket KA menuju Stasiun Gambir Jakarta.
Saat       hendak masuk tiba-tiba “Jeprutt .... prakk” tali tas kecilku jatuh, obat-obatan, power bank, charger, tiket pesawat dan isinya tercecer keluar. Sambil jongkok memunguti barangku. Penumpang yang akan masuk sudah nampak berdesakan, maklum Kereta Ekonomi. Saat hendak malaju, sambil menenteng tas aku berdiri tepat di pintu gerbong, kemudian “breettt ...” tas ku jatuh lagi ? bukan! Aku kaget lalu teriak ...
“Jambreettt !!!” tas ku dibawa lari lelaki misterius, entah siapa karena hari masih gelap, aku teriak mengalahkan suara peluit petugas stasiun saat itu.
“Copet !! Copet !! Punten kang, itu cegat ! .... Aaah, sialan !” aku langsung lompat dan mengejar copet itu “Copeeeet !! Wooii rek kamana siah ! Jangan tinggalin gua !!”  *Jiiiaah, buset, itu copet larinya cepat amat, iya lah, mana ada copet lari lemah gemulai. Si Copet menghilang diantara keramaian penumpang, tapi kulihat dia keluar stasiun dan masuk ke suatu gang, aku ikuti hingga cukup jauh dari stasiun hingga akhirnya Aku kehilangan dia “Sial !”.
Dengan nafas masih tersenggal senggal aku kembali ke stasiun. Sial lagi, ternyata Kereta Menuju Gambir sudah berangkat, dan akan ada lagi jam 4 sore. Aku tengok jam tanganku, 6.30 pagi, lalu aku kabari sahabatku Syam.
 “Tuutt ... Tuutt ... Tuutt, Nomor Yang Anda Tuju Sedang Tidak Aktif“
” huh, lagi-lagi janda gatel itu yang jawab, yang lain juga belum aktif pasti masih di pesawat menuju Jakarta.”

Mondar mandir di Stasiun berpikir harus gimana, cek Dompet uang cash hanya ada 250.000, saldo ATM aku cukup untuk membeli tiket pesawat lagi, tapi saat di cek ketersediaan Tiket di internet. Apess memang, hari ini semua tiket pesawat kelas ekonomi tujuan Bali sudah ludes terjual, hingga 3 hari kedepan. *kelas ekonomi?* “masalah buat lo?
“Ahh, harus hemat nih, disanakan belum Check in, Makan, Belanja, Diving, Snorkling, Clubbing, ehh hehe ”
Setelah aku pikirkan kereta menjadi pilihan ku ke Bali, via Bandung – Surabaya. Saat di loket ada dua pilihan dilematis antara KA Turangga atau KA Pasundan. Aku tanyakan soal harga tiket kedua kereta itu.
“loh, teh, kok Turangga mahal yaa?” tanyaku heran kepada petugas loket, dibalik kaca mbak itu menjawab “iyalah kang, fasilitasnya juga bagus” mbak itu menunjukan brosur kereta dengan interiornya yang mirip pesawat.
“jangan haraf naik kereta Cuma-Cuma, hehe” canda mbak itu.
“ya iyalah teh, bisa aja si teteh mah.” Ucapan mbak tadi membuatku ingat akan syair lagu anak-anak ... Ke Bandung~ Surabaya~  boleh lah naik dengan percuma .... aku senyam senyum sendiri.
 Karena harga tiket KA Turangga begitu mahal maka KA Pasundanlah pilihanku lebih murah 100.000 karena kelas ekonomi. Di dalam gerbong, aku tercengang melihat keadaan Kereta, kumuh ? padat penumpang? Pedagang asongan? Itu semua tidak ada, keretanya bersih, ber-AC, dan ada colokan listrik untuk ngeCharge, tepuk jidat, baru ingat Chargerku ada ditas yang dicopet itu, harus hemat batterai, aku SMS Ranger lain, jika aku ke Bali dengan “Ngeteng” dan tidak jadi ke Stasiun Gambir. Dari jam 7 Kereta melaju cukup cepat, udara segar kota Bandung berhembus dari sela-sela jendela kereta.
Ponselku berbunyi, rupanya Arief menelpon “Hoii Cung, kenapa lo malah mau Ngepang di Bali ?”
“Eh.. Eh.. Eh ! bukan Ngepang, tapi Ngeteng, jadi gua gonta-ganti Transport, sekarang di Kereta menuju Surabaya” jawab aku.
“hahaha... loh, kok Kereta? gak cape kau ke Bali pake Kereta?” tanya Arief heran, yang dia kira Kereta itu Motor. Karena di Aceh disebut begitu.
“iishh... ini kereta beneran cung, yang Jug ge Jag ge Jug... Sorry gua gak ke Jakarta.”
“Ooohh... kenapa? Gua, Syam dan Pian mau Boarding nih ...”
“ceritanya panjang lebar kali tinggi, Kabarin gua jika udah sampai Bali” setelah telpon berakhir, baterai ponsel berkurang satu, benar-benar harus hemat batere, hemat uang pula, hadooh..
Matahari Jam 10 pagi tersenyum hangat menyapa dari langit biru, cerahnya bersatu dengan hijaunya pesawahan. Hampir 12 Jam perjalanan mulai membuatku Jenuh, aku berjalan-jalan menyusuri gerbong, lalu terhenti di pintu gerbong, teringat adegan di film 5CM saat Zafran dan Dinda menggantung di pintu menikmati hembusan angin, pikirku “Ah, Cobain ahh heheh” sensasi angin kencang berhembus nikmat sekali, aku merem-melek lalu membayangkan seseorang berbisik I love You, eh, fantasy ku buyar karena kaget petugas gerbong menegurku.
 “he kang ! ojo ngadek neng kunu! Blai kowe nek ngadek neng lawang koyo ngunu ...” dialek Jawa yang khas dia pinta jangan berdiri disitu, berbahaya. Karena Bad Mood Aku terlelap tidur, hingga tidak terasa telah sampai di Stasiun Gubeng Surabaya. Aku turun, tepat pukul 18.30 dan kukabari lagi Ranger lain.
Saat di Kereta aku sempat bertanya pada penumpang lain caranya ke Bali dari Surabaya, katanya bisa menggunakan Bis Malam, Ok aku pun ke terminal Bis,  mumpung di Surabaya jalan-jalan dulu lalu selfie buat di Sosial Media. Aku tergiur dengan Rujak Cingur yang dijual disana, lumayan buat menghilangkan pusing dari kereta tadi. Saat naik Bis menuju Banyuwangi. 2 jam perjalanan, tiba-tiba perutku bermasalah, rasanya mules, sakit melilit-lilit.
“Aduuuhh, pasti gara-gara jajanan itu, ini bis gak ada toiletnya ya” dalam benaku sambil menahan sakit, keringat dingin bercucuran. Ingin bicara untuk berhenti tapi mengangkat bokong saja rasanya, enggan. Sekitar pukul 8 Bis berhenti sejenak di SPBU. Beberapa penumpang turun tuk sekedar buang air kecil atau merokok, hal ini juga jadi kesempatan buatku, untuk maaf, Puff.
“Ahhh... Leganyaa ...” akhirnya penderitaanku pergi terbawa arus berputar itu. “Bye .. !” aku tersenyum puas, saat ku lihat jam tangan. “Busset jam 8.45 ! gila udah setengah jam lebih gua nongkrong” aku keluar dari toilet tapi di hadang seorang pria, bukan preman tapi  penjaga toilet untuk bayar. Saat aku Rogoh Dompet, tepuk jidat “Astaga ! Dompet ku didalam Ransel” aku minta izin untuk mengambil uang dulu di Bis, tapi saat keluar kamar mandi Bis nya menghilang. Lemas tubuhku ...
Aku kebingungan, entah ada dimana. Ponsel lowbat tak bisa nelpon, Aku SMS Ranger lain lalu Pian membalas, katanya mereka Check in disalah satu Hotel di Sanur. Aku naik Ojek dengan Jaminan Jam Tangan dan Ponsel untuk mengejar Bis itu. Wah, kita kebut-kebutan saat itu karena takut kehilangan jejak Bis itu, untungnya tukang ojek tau jalan hingga terminal Bis di Banyuwangi.
Syukurlah Bis itu ada di terminal. Aku ambil Ranselku dan sempat memarahi Kondektur karena teganya dia meninggalkan aku. 50.000 keluar dari Dompet untuk membayar tukang Ojek itu. Jam 01.20 dini hari, aku celingak-celinguk mencari jalan ke pelabuhan, aku pun pakai GPS (Guide Penduduk Setempat) hehe, aku tanya pada Bapak-bapak di pos ronda, katanya ke pelabuhan Ketapang cuma 20 menit jalan kaki.
Malam dingin cuma berjalan sendiri ditemani gemerlap bintang, Begini rasanya berpetualang ala Nekat Traveller, ah bukan ini namanya “Ngeteng Traveller”, melelahkan tapi begitu seru karena kerasa banget perjuangannya. Tidak seperti naik pesawat, gak asik ! Cuma B2SB “Boarding, Bobo, Sampai, Bali”. Huh.
Di Pelabuhan Ketapang, tak ada satu pun Ferry hendak nyeberang, tapi diluar Pelabuhan ada beberapa nelayan yang hendak melaut, aku nekat meminta untuk bisa diseberangkan ke Gilimanuk,  akhirnya dengan bujuk rayu ada satu Perahu yang mau mengantarku, karena kebetula Bli itu nelayan dari Bali, satu jam perjalanan melintas selat Bali membuatku Mabuk laut, Kepala masih keleyengan aku sampai diseberang. Jam 3 Pagi, petualanganku masih berlanjut, kata Bli nelayan tadi aku bisa naik Bis Malam tujuan Mataram,  Bis itu bakal Singgah dulu ke Terminal Ubung, Aku berterima kasih sekali atas jasa Bli tadi, baik sekali.
Akhirnya setelah bernego hebat, aku bisa ke Denpasar dengan 20.000 hehe, hebat kaan ? sesampainya di Terminal Ubung Denpasar, aku menelpon Syam dengan sisa Batere terakhir. Syam mengangkat dan billang mereka akan melihat Sunrise. lalu “tuuutt... blep” HP-ku Mati. Dari terminal aku jalan kaki hingga ke Sanur, sepangjang jalan aku bertanya-tanya supaya tidak nyasar. Aku percepat langkahku karena waktu sudah jam 4.45, aku tidak mau melewatkan lembayung indah itu.
Di Sanur, 6 Ranger lain sedang duduk dipasir putih menghadap laut, menantikan detik-detik Sang Fajar beralih Terbitnya Surya.
“Sayang banget yaa, Irfan gak ikut kita ke Bali” ujar Irwan kecewa.
“Dia pasti ke Bali, tadi dia bilang mau Ngepang disini” Ucap Arief menghibur
“Guys. Tadi Irfan menelpon, tapi gak sempat bilang dimana posisinya, hpnya mati” tungkas Sam.
“Irfan, dimana kaaauuuu~ si Ranger Ungu gak nepatin janjinya !” Teriak Goo sedikit lebay
“iyahhh ka, kok dia begitu sih, 6 tahun, ini lah yang kita tunggu” Pian turut kecewa.
“Andai dia disini sekarang, lengkaplah bahagia kita 7Rangers” kata Leo.
***
Aku sampai di Pantai Sanur, lalu kulihat ada 6 Pria memakai baju merah, putih, biru, hijau, kuning, dan hitam sedang duduk bersama menatap Lautan. Tidak lain dan tidak bukan ...
Aku mendengar obrolan mereka, dan aku bersuara ...
“Aku ada disini kok !”
“?!” para Ranger reflek menengok kebelakang lalu berdiri. Air muka mereka berubah, rona bahagia terpancar. Kami berpelukan dan lengkaplah 7Ranger, lalu Arief nyeletuk, “Fan, kok lu bau banget sih?” membuat semua melepas pelukan mereka. “lu gak tau yah, bau ini, keringat ini, merupakan perjuangan tuk mencapai Lembayung itu ...” telunjukku mengarah pada Cahaya Lembayung berwarna Oranye keunguan dengan gradasi hijau dan biru langit yang indah, hingga matahari kemerahan muncul sedikit-demi-sedikit dari cakrawala. Yups, Sunrise Sanur yang terkenal itu. Ibarat persahabatan kami yang berwarna warni, hangat, dan abadi. “aaahh lu harus di hukum,” para ranger memegangiku dan menyeret ku ke laut, kami basah-basahan bermandikan Cahaya Lembayung Dewata dari Sunrise Pantai Sanur. Ini Petualangan terbaik dalam hidupku.
Tamat.

0 komentar:

Posting Komentar

"aku sangat senang bila anda dapat meninggalkan komentar disini"